Oleh: Julian Alfijar | Februari 6, 2008

Investasi Energi Terbarukan Naik 60 Persen

Di antara berita muram dan skeptis tentang perubahan iklim, sebuah laporan terbaru dari Badan Lingkungan Hidup PBB (UNEP) memunculkan “angin segar” tentang peluang menciptakan ekonomi rendah karbon. Sejak Protokol Kyoto disepakati pada tahun 1997, upaya menekan laju emisi gas rumah kaca terus dikembangkan, dan salah satunya dengan menggalakkan sumber-sumber energi dari bahan bakar yang terbarukan

Instalasi Biodiesel

new-picture-7.png

“Sektor industri energi terbarukan kini bukan lagi cuma sebagai alternatif sumber energi, tapi sudah bergerak menjadi salah satu arus utama pengembangan energi dunia, yang juga sejalan dengan upaya mengurangi emisi,” kata Virginia Sonntag-O`Brien dari UNEP, di Nusa Dua, Sabtu lalu seperti diberitakan Antara .

Menurut dia, energi terbarukan sudah menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan dengan laju kenaikan di sektor investasi antara 15-60 persen tahun ini.

Selama 2007, investasi dunia untuk energi terbarukan mencapai US$100 miliar. Ini termasuk US$66 miliar investasi pada peningkatan kapasitas, pembangunan hidropower, pengembangan olahan sinar matahari, dan dana riset di sektor publik dan swasta.

Data laporan UNEP tahun 2007 menunjukkan bahwa sektor energi angin menjadi sektor yang mendapat investasi terbesar di antara jenis energi terbarukan yang lain.Pertumbuhan energi angin naik 25-30 persen tiap tahunnya, dan menghasilkan listrik lebih dari 90 gigawatt – ini 11 kali lebih besar daripada kondisi 1997.

new-picture-5.png

Di sektor pembangkit listrik tenaga sinar matahari, pertumbuhannya tercatat sebesar 50-60 persen dan sekarang berhasil menyalurkan daya 8 gigawatt listrik. Energi hidropower dan biomass tercatat menghasilkan masing-masing 73 gigawatt dan 44 gigawatt per tahun, sedangkan energi panas bumi menyumbang 10 gigawatt. Bila digabungkan, energi terbarukan kini sanggup menyumbang 240 gigawatt listrik dari total kapasitas produksi listrik dunia 4.300 gigawatt.

new-picture-6.png

Sementara itu, Badan Energi Internasional mencermati tren investasi riset dan pengembangan di sektor energi terus menurun dari 1982-2006, sehingga tidak seimbang lagi dengan besaran dampak fenomena perubahan iklim. “Pengeluaran pemerintah untuk bidang riset energi terus berkurang, sementara sektor swasta terlalu fokus kepada proyek-proyek yang keuntungannya jangka pendek,” kata Direktur Eksekutif IEA, Nobuo Tanaka, Selasa lalu.

Ia menjelaskan, penelitian dan pengembangan sektor energi alokasi terbesarnya adalah untuk bidang nuklir, diikuti bahan bakar fosil, bahan bakar terbarukan, dan efisiensi energi. “Energi yang terkait dengan emisi CO2 telah bertumbuh lebih cepat ketimbang antisipasi awal kita, bahkan ketika harganya merangkak naik.”

Masalah perubahan iklim, masih kata pria asal Jepang itu, adalah kecepatan mengambil langkah, “Tidak ada waktu lagi untuk disia-siakan. Kita harus implementasi sekarang juga.”

IEA juga mencermati saat ini sumber energi batubara harus diupayakan bisa seminim mungkin menghasilkan emisi karbon, salah satunya dengan teknologi CCS (“carbon capture and storage”). Teknologi ini membuat karbon tidak dilepaskan ke atmosfer.

“Kita juga harus berpikir bahwa sektor energi bukanlah bagian dari masalah, justru efisiensi dan pengembangan teknologi energi adalah solusi buat perubahan iklim,” kata Nobuo menambahkan.

Nobuo juga mengatakan, dengan menghemat konsumsi energi, emisi gas rumah yang bisa dicegah. “Efisiensi energi adalah opsi mitigasi perubahan iklim yang paling mungkin dilakukan, dan biayanya juga paling murah,”kata Nobuo menjelaskan tiga keuntungan melakukan penghematan konsumsi energi. “Keuntungan tiga kali lipat bisa dirasakan lewat upaya efisiensi energi, pertama adalah peningkatan kinerja ekonomi karena ongkos energinya lebih rendah,”katanya.

Lalu di fase kedua, keuntungan efisiensi energi adalah memperkuat faktor keamanan pasokan energi. Alasannya risiko untuk tergantung dengan sumber energi impor bisa ditekan. Keuntungan ketiga, efisiensi energi membuat lingkungan hidup setempat dan internasional bisa lebih rendah emisi karbonnya, menyesuaikan kebutuhan energi yang diturunkan volumenya.

Untuk melakukan efisiensi energi, IEA memandang hambatan yang muncul hanyalah soal implementasi. “Hambatan kita ada tiga; implementasi, implementasi, dan implementasi. Karena memang kita cuma butuhkan implementasi yang konsisten untuk mencapai efisiensi energi yang optimal.”

Oleh: Julian Alfijar | Februari 6, 2008

Nuklir Tidak Termasuk Energi Terbarukan?

Barangkali pernah muncul di dalam benak kita, mengapa energi nuklir bukan termasuk energi terbarukan? Padahal mungkin sering kita dengar argumentasi bahwa energi nuklir tidak ada habisnya. Untuk meyakinkan publik, para pendukung energi nuklir mengatakan bahwa matahari (sebagai sumber energi terbarukan di dunia ini) pada dasarnya merupakan pembangkit energi nuklir alam. Tepatkah argumentasi ini?

Instalasi Uranium Isotope

new-picture-8.png

Untuk mulai menjawab pertanyaan ini, pertama kita perlu merujuk kembali definisi energi terbarukan. Rupanya ada beberapa definisi mengenai energi terbarukan, diantaranya adalah:

  1. Setiap sumber energi yang secara alamiah dapat dibangkitkan kembali dalam waktu yang singkat dan merupakan turunan langsung maupun tidak langsung dari energi dari matahari atau dari energi pergerakan dan mekanisme alamiah lainnya. Energi terbarukan tidak termasuk sumber energi yang dihasilkan dari bahan bakar fosil, atau produk sisa dari fosil, atau produk sisa sumber non-organik [sumber].
  2. Sumber energi yang secara alamiah tiada habisnya tetapi terbatas dalam alirannya. Energi terbarukan bisa dikatakan tidak akan habis menurut fungsi waktu, akan tetapi energi per satuan waktu yang tersedia terbatas [sumber].

Jika merujuk pada pengertian tersebut sekilas ada peluang energi nuklir masuk dalam kategori ini, dengan asumsi bahwa ketersediaan energi nuklir secara virtual tak terbatas.

Pertanyaanya apakah benar bahwa dengan teknologi yang ada saat in, manusia bisa memanfaatkan energi nuklir dengan tiada habisnya? Jawabannya tenyata tidak. Mengapa?

Teknologi nuklir yang paling banyak digunakan saat ini adalah teknologi fusi dengan bahan bakar sekali pakai (once through). Teknologi ini menggunakan uranium alam sebagai bahan bakar. Dengan jumlah PLTN seperti saat ini, uranium alam yang tersedia akan habis dalam waktu kurang lebih satu abad. Jika jumlah konsumsi energi nuklir meningkat maka tentu akan habis dalam waktu yang lebih singkat.

Ada teknologi yang disebut nuclear spent fuel reprocessing, atau pemrosesan kembali bahan bakar nuklir habis pakai. Dengan teknologi ini sebagian bahan bakar habis pakai dapat digunakan kembali, sehingga cadangan uranium alam yang ada bisa digunakan untuk jangka waktu yang jauh lebih panjang, mungkin hingga ribuan tahun. Namun reprocessing mengandung resiko paparan radiasi yang sangat tinggi karena proses ini dilakukan di luar reaktor dan melibatkan proses kimia yang relatif kompleks serta rentan kecelakaan.

Teknologi yang lain adalah dengan menggunakan reaktor yang disebut fast breeder reactor. Secara teori, teknologi ini bahkan bisa menghasilkan bahan bakar nuklir yang lebih besar dari yang digunakan. Namun demikian, teknologi ini hingga kini masih sekedar konsep. Walaupun sudah dicoba secara experimental, sangat diragukan akan mampu digunakan secara komersial. Disamping itu, teknologi ini mengandung resiko yang sangat besar karena fast breeder reactor membutuhkan pendingin logam cair yang sangat mudah meledak dan jika sampai terjadi kebocoran akan sangat membahayakan lingkungan. Disamping itu pengendalian reactor ini jauh lebih kompleks dari reaktor konvensional, akibatnya, tingkat keandalan reaktor tersebut sangat rendah.

Anggaplah teknologi tersebut dapat direalisasikan, apakah dengan demikian nuklir bisa dikategorikan sebagai energi terbarukan? Jawabnya, sekali lagi tidak.

Kalau kita bandingkan antara sumber energi terbarukan dengan nuklir ada satu perbedaan yang sangat tajam. Energi terbarukan itu bersifat ramah lingkungan sementara dari tinjauan apapun energi nuklir justeru mengancam lingkungan dan membahayakan keselamatan. Mulai dari proses penambangan uranium, konversi dan fabrikasi bahan bakar, pengoperasian, pengelolaan limbah hingga penyimpanan akhir limbah nuklir, semuanya mengancam lingkungan dan keselamatan. Disamping itu perlu diingat, bahwa kerusakan yang ditimbulkan oleh kecelakaan nuklir bersifat irreversible (tidak bisa diperbaiki kembali).

Kalau kita telusuri semua proses tersebut maka tidak terbantahkan bahwa nuklir jauh dari sifat-sifat energi terbarukan, bahkan dampakanya jauh lebih buruk dari energi fosil.

Oleh: Julian Alfijar | Februari 6, 2008

Indonesia Dorong Energi Terbarukan

Pemerintah terus mendorong investasi di bidang energi terbarukan seiring kebijakan pemerintah untuk terus mendorong diversifikasi energi sebagai salah satu upaya untuk mengurangi emisi karbon dioksida atau CO2. Salah satu sumber energi yang akan didorong adalah pemanfaatan energi panas bumi.

Untuk mendorong investasi di energi panas bumi, lanjutnya, pemerintah memberikan insentif, yaitu baru mengenakan pajak setelah eksplorasi benar-benar membuahkan hasil. Hal itu karena risiko eksplorasi panas bumi sangat tinggi sehingga pemerintah tidak ingin menambah beban dengan mengenakan berbagai pajak untuk investasi tersebut.

“Sekarang ini harga energi panas bumi, meskipun tak semurah batu bara, yaitu 4,3 sen (per kilowatt), tetapi harganya mendekati sedikit di bawah 5 sen dollar (per kilowatt). Dengan kemampuannya mencegah pengeluaran karbon, industri panas bumi ini sangatlah kompetitif,”. Diversifikasi energi Berdasarkan skenario pemerintah, pemanfaatan energi panas bumi saat ini yang baru 1,1 persen sudah harus meningkat menjadi 5,0 persen pada tahun 2025.

Target untuk bahan bakar bio juga ditetapkan 5,0 persen pada tahun 2025. Dari sisi konsumsi, pemerintah juga membuat kebijakan konversi energi, misalnya penggunaan minyak tanah di rumah-rumah tangga digantikan dengan gas. Begitu juga dengan pemasyarakatan penggunaan lampu hemat energi. Indonesia mempunyai target pada tahun 2025 untuk mewujudkan diversifikasi energi, yang jika dilaksanakan akan bisa mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 17 persen.

“Jika kita berbicara perdagangan masa depan, jelas sekali produk-produk yang berkelanjutan adalah andalan masa depan,”.  Indonesia sekarang mempunyai 5,5 juta hektar lahan perkebunan sawit dengan kapasitas produksi 17 juta ton per tahun, yang sangat potensial juga untuk pengembangan bahan bakar bio.

Dengan harga minyak sawit mentah (CPO) sekarang 895 dollar AS per ton, produksi CPO itu bisa menghasilkan 30,6 miliar dollar AS atau sekitar sepertiga dari ekspor nonmigas Indonesia. Indonesia juga sangat kompetitif untuk industri pulp and paper. Indonesia sekarang mempunyai tiga juta hektar hutan tanaman industri (HTI) yang berkapasitas memproduksi pulp sekitar 6,7 juta ton per tahun, tetapi tingkat produksi sekarang adalah 5,5 juta ton per tahun.

Jika dibandingkan dengan Finlandia yang merupakan negara produsen pulp terbesar di dunia, tanaman pinus yang menjadi bahan baku di negara itu membutuhkan waktu 60 tahun untuk bisa tumbuh dengan diameter batang 60 cm, yang merupakan tingkatan yang ideal bagi pohon itu untuk ditebang. Sedangkan pohon akasia yang ditanam di HTI Indonesia hanya membutuhkan waktu sekitar enam tahun.

“Jadi, sangat jauh sekali bedanya. Kita sangat-sangat kompetitif. Dengan harga pulp sekarang sekitar 700 dollar AS per ton, ini adalah peluang yang sangat menarik yang bisa dimanfaatkan,”. Diakui, Indonesia memang menghadapi masalah dengan kebakaran lahan dan hutan, tetapi kebakaran seperti itu juga terjadi di banyak tempat.

“Menjadi tantangan bagi kita. Sekarang pemerintah melakukan pendekatan sistem, yaitu agar pembukaan lahan tidak dilakukan dengan membakar. Banyak tawaran teknologi yang sudah disampaikan kepada saya, tinggal kita memilihnya,”.

Oleh: Julian Alfijar | Februari 6, 2008

PERTAMINA SALURKAN BIOSOLAR D

Sehubungan dengan pemakaian Biofuel sebagai energi alternatif terbarukan yang pada akhirnya diharapkan dapat membantu mengurangi volume pemakaian BBM bersubsidi, Pertamina selaku pioneer pendistribusian Biofuel di Indonesia, akan memperluas penyaluran produk BBM ramah lingkungan tersebut untuk wilayah Kota Surabaya dengan diawali penjualan Biosolar di 5 SPBU yang ada di kota tersebut.
Pemasaran Biosolar sendiri diluncurkan pertama kali di Jakarta pada Sabtu 20 Mei 2006 yang lalu. Pertamina Biosolar dipasarkan dengan harga 4.300 rupiah sama dengan solar subsidi. Penjualan kepada konsumen untuk tahap awal dilakukan di empat SPBU yakni satu SPBU COCO Jl. Industri, Kemayoran, dua SPBU Jl. TB Simatupang, dan satu SPBU di Jl. Tendean.
Sedangkan hingga kini, sudah terdapat 19 SPBU di wilayah Jakarta Selatan dan Pusat yang turut memasarkan produk tersebut. Tingkat penjualan produk ramah lingkungan ini berada di level 114 KL per hari.
Menurut rencana, hingga akhir Agustus 2006 mendatang seluruh SPBU di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat sudah menyalurkan produk tersebut dan secara bertahap pula hingga akhir tahun ini, akan dipasarkan di seluruh wilayah pemasaran DKI Jakarta.

Profil Energi Terbarukan

Opsi mengalihkan konsumsi energi dari jenis energi fosil yang tidak bisa diperbarui (unrenewable energy) ke jenis energi hayati non fosil yang bisa diperbarui (renewable energy) bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Karena asumsi yang ada sudah tak terbantahkan, yaitu energi fosil akan habis pada saatnya.
Jenis energi terbarukan ini memiliki sumber daya energi yang secara alamiah tidak akan habis dan dapat berkelanjutan jika dikelola dengan baik. Sebutlah misalnya, panasbumi, biofuel, aliran sungai, panas surya, angin, ombak laut, dan suhu kedalaman laut.
Dari sederet jenis sumber energi yang terbarukan itu Pertamina sekarang bergerak ke energi biofuel. Salah satu biofuel yang digarap Pertamina adalah Biosolar, yaitu bahan bakar diesel yang terbuat dari unsur hayati-nabati non fosil.
Seperti diketahui, biofuel didapatkan dari minyak nabati seperti minyak kelapa sawit atau CPO (Crude Palam Oil) dan minyak pohon jarak pagar atau CJCO (Crude Jatropha Curcas Oil), dibuat dengan proses transesterifikasi. Proses ini pada dasarnya merupakan proses yang mereaksikan minyak nabati (CPO atau CJCO) dengan methanol dan ethanol dengan katalisator (NaOH atau KOH).
Dari hasil proses transesterifikasi CPO itu akan dihasilkan metil ester asam lemak murni (Fatty Acid Metyl Ester / FAME). Lalu FAME tersebut di-blending dengan solar murni selama sekitar sepuluh menit untuk menghasilkan bahan bakar Biosolar yang siap pakai. Biosolar memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan bentuk energi lain, yaitu: lebih mudah ditransportasikan; memiliki kerapatan energi per volume yang lebih tinggi; memiliki karakter pembakaran yang relatif bersih; dan ramah lingkungan.

Oleh: Julian Alfijar | Januari 23, 2008

Energi Terbarukan Di Indonesia

Belajar (berkaca) dari keberhasilan orang lain adalah salah satu upaya menuju keberhasilan dan mandiri. Kalimat ini sangat cocok dan tepat jika ditujukan bagi pengembangan energi terbarukan di Indonesia yang hingga kini masih seperti jalan ditempat. (kutipan)

Apakah pemerintah indonesia belum sungguh-sungguh atau masih setengah-setengah dalam menangani hal ini?

Ataukah orang indonesia memang jauh kalah pintar dengan orang luar? atau pintarnya hanya dalam urusan korupsi saja?

ferris_wheel_spinning_md_wht.gif

Padahal kalau kita lihat perkembangannya banyak sekali temuan-temuan yang sudah didapat baik oleh peneliti maupun per orangan tentang energi terbarukan seperti misalnya biodiesel, bioetanol, kompor dengan bahan bakar air dan banyak lagi yang lain, namun kok sampai saat ini belum ada respon dari pemerintah untuk menindak lanjuti semua ini sehingga indonesia tidak lagi ketergantungan akan bahan bakar premium yang harganya melambung tinggi.

antenna.gif



Kategori