Oleh: Julian Alfijar | Februari 6, 2008

Indonesia Dorong Energi Terbarukan

Pemerintah terus mendorong investasi di bidang energi terbarukan seiring kebijakan pemerintah untuk terus mendorong diversifikasi energi sebagai salah satu upaya untuk mengurangi emisi karbon dioksida atau CO2. Salah satu sumber energi yang akan didorong adalah pemanfaatan energi panas bumi.

Untuk mendorong investasi di energi panas bumi, lanjutnya, pemerintah memberikan insentif, yaitu baru mengenakan pajak setelah eksplorasi benar-benar membuahkan hasil. Hal itu karena risiko eksplorasi panas bumi sangat tinggi sehingga pemerintah tidak ingin menambah beban dengan mengenakan berbagai pajak untuk investasi tersebut.

“Sekarang ini harga energi panas bumi, meskipun tak semurah batu bara, yaitu 4,3 sen (per kilowatt), tetapi harganya mendekati sedikit di bawah 5 sen dollar (per kilowatt). Dengan kemampuannya mencegah pengeluaran karbon, industri panas bumi ini sangatlah kompetitif,”. Diversifikasi energi Berdasarkan skenario pemerintah, pemanfaatan energi panas bumi saat ini yang baru 1,1 persen sudah harus meningkat menjadi 5,0 persen pada tahun 2025.

Target untuk bahan bakar bio juga ditetapkan 5,0 persen pada tahun 2025. Dari sisi konsumsi, pemerintah juga membuat kebijakan konversi energi, misalnya penggunaan minyak tanah di rumah-rumah tangga digantikan dengan gas. Begitu juga dengan pemasyarakatan penggunaan lampu hemat energi. Indonesia mempunyai target pada tahun 2025 untuk mewujudkan diversifikasi energi, yang jika dilaksanakan akan bisa mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 17 persen.

“Jika kita berbicara perdagangan masa depan, jelas sekali produk-produk yang berkelanjutan adalah andalan masa depan,”.  Indonesia sekarang mempunyai 5,5 juta hektar lahan perkebunan sawit dengan kapasitas produksi 17 juta ton per tahun, yang sangat potensial juga untuk pengembangan bahan bakar bio.

Dengan harga minyak sawit mentah (CPO) sekarang 895 dollar AS per ton, produksi CPO itu bisa menghasilkan 30,6 miliar dollar AS atau sekitar sepertiga dari ekspor nonmigas Indonesia. Indonesia juga sangat kompetitif untuk industri pulp and paper. Indonesia sekarang mempunyai tiga juta hektar hutan tanaman industri (HTI) yang berkapasitas memproduksi pulp sekitar 6,7 juta ton per tahun, tetapi tingkat produksi sekarang adalah 5,5 juta ton per tahun.

Jika dibandingkan dengan Finlandia yang merupakan negara produsen pulp terbesar di dunia, tanaman pinus yang menjadi bahan baku di negara itu membutuhkan waktu 60 tahun untuk bisa tumbuh dengan diameter batang 60 cm, yang merupakan tingkatan yang ideal bagi pohon itu untuk ditebang. Sedangkan pohon akasia yang ditanam di HTI Indonesia hanya membutuhkan waktu sekitar enam tahun.

“Jadi, sangat jauh sekali bedanya. Kita sangat-sangat kompetitif. Dengan harga pulp sekarang sekitar 700 dollar AS per ton, ini adalah peluang yang sangat menarik yang bisa dimanfaatkan,”. Diakui, Indonesia memang menghadapi masalah dengan kebakaran lahan dan hutan, tetapi kebakaran seperti itu juga terjadi di banyak tempat.

“Menjadi tantangan bagi kita. Sekarang pemerintah melakukan pendekatan sistem, yaitu agar pembukaan lahan tidak dilakukan dengan membakar. Banyak tawaran teknologi yang sudah disampaikan kepada saya, tinggal kita memilihnya,”.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori