Sehubungan dengan pemakaian Biofuel sebagai energi alternatif terbarukan yang pada akhirnya diharapkan dapat membantu mengurangi volume pemakaian BBM bersubsidi, Pertamina selaku pioneer pendistribusian Biofuel di Indonesia, akan memperluas penyaluran produk BBM ramah lingkungan tersebut untuk wilayah Kota Surabaya dengan diawali penjualan Biosolar di 5 SPBU yang ada di kota tersebut.
Pemasaran Biosolar sendiri diluncurkan pertama kali di Jakarta pada Sabtu 20 Mei 2006 yang lalu. Pertamina Biosolar dipasarkan dengan harga 4.300 rupiah sama dengan solar subsidi. Penjualan kepada konsumen untuk tahap awal dilakukan di empat SPBU yakni satu SPBU COCO Jl. Industri, Kemayoran, dua SPBU Jl. TB Simatupang, dan satu SPBU di Jl. Tendean.
Sedangkan hingga kini, sudah terdapat 19 SPBU di wilayah Jakarta Selatan dan Pusat yang turut memasarkan produk tersebut. Tingkat penjualan produk ramah lingkungan ini berada di level 114 KL per hari.
Menurut rencana, hingga akhir Agustus 2006 mendatang seluruh SPBU di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat sudah menyalurkan produk tersebut dan secara bertahap pula hingga akhir tahun ini, akan dipasarkan di seluruh wilayah pemasaran DKI Jakarta.
Profil Energi Terbarukan
Opsi mengalihkan konsumsi energi dari jenis energi fosil yang tidak bisa diperbarui (unrenewable energy) ke jenis energi hayati non fosil yang bisa diperbarui (renewable energy) bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Karena asumsi yang ada sudah tak terbantahkan, yaitu energi fosil akan habis pada saatnya.
Jenis energi terbarukan ini memiliki sumber daya energi yang secara alamiah tidak akan habis dan dapat berkelanjutan jika dikelola dengan baik. Sebutlah misalnya, panasbumi, biofuel, aliran sungai, panas surya, angin, ombak laut, dan suhu kedalaman laut.
Dari sederet jenis sumber energi yang terbarukan itu Pertamina sekarang bergerak ke energi biofuel. Salah satu biofuel yang digarap Pertamina adalah Biosolar, yaitu bahan bakar diesel yang terbuat dari unsur hayati-nabati non fosil.
Seperti diketahui, biofuel didapatkan dari minyak nabati seperti minyak kelapa sawit atau CPO (Crude Palam Oil) dan minyak pohon jarak pagar atau CJCO (Crude Jatropha Curcas Oil), dibuat dengan proses transesterifikasi. Proses ini pada dasarnya merupakan proses yang mereaksikan minyak nabati (CPO atau CJCO) dengan methanol dan ethanol dengan katalisator (NaOH atau KOH).
Dari hasil proses transesterifikasi CPO itu akan dihasilkan metil ester asam lemak murni (Fatty Acid Metyl Ester / FAME). Lalu FAME tersebut di-blending dengan solar murni selama sekitar sepuluh menit untuk menghasilkan bahan bakar Biosolar yang siap pakai. Biosolar memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan bentuk energi lain, yaitu: lebih mudah ditransportasikan; memiliki kerapatan energi per volume yang lebih tinggi; memiliki karakter pembakaran yang relatif bersih; dan ramah lingkungan.